Sio maluku tampa beta putus pusa e
paser putih aluse gunung deng tanjong
beta seng lupa e

menjelang akhir tahun 2014 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah maluku. jujur sebelumnya ga da bayangan bahwa saya akan sampai disini. untungnya adalah saya telah memiliki beberapa teman kantor yang sudah terlebih dahulu pindah ke maluku.

jujur pertama kali akan berangkat ke maluku, saya benar-benar belum memiliki bayangan seperti apa kehidupan di maluku. yang saya tau tentang maluku sangat terbatas pada informasi yang saya peroleh dari berita-berita. jujur lagi pada saat itu konotasi maluku dan ambon khususnya masih seputar kerusuhan dan konflik beragama.. hanya saja setelah ngobrol dengan beberapa teman yang sudah terlebih dahulu pindah kesini ternyata katanya jauh lebih baik dari yang saya pikirkan.

jadi akhirnya setelah menenmpuh penerbangan hampir 5 jam dari JOG-CGK_AMQ, sampailah saya ke tanah maluku. tanahnya pattimura dan christina martha tiahahu. tentunya banyak hal yang berbeda disini dibandingkan dengan tempat tinggal saya sebelumnya.

banyak hal yang saya pelajari selama tinggal dan berdomisili sementara di maluku. salah satunya adalah bahwa masyarakat indonesia adalah masyarakat yang sangat toleran terkait dengan hubungan antar umat beragama. di maluku saya belajar bagaimana saya bersikap ketika kepercayaan yang saya yakini bukan merupakan kepercayaan yang diyakini oleh mayoritas warganya. dan menurut saya pribadi sih ga ada masalah yang berarti

hal lain  yang saya benar-benar pelajari dari tinggal di Maluku adalah jangan menilai dan menghakimi orang dari luarnya saja. beberapa kali saya bertemu dengan warga sini yang maaf kalo dari luar mungkin sekilas kita akan menganggap yang bersangkutan agak “sangar” tapi ternyata setelah bersosialisasi dan berinteraksi dengan yang bersangkutan ternyata mereka juga bisa lebih ramah dari kita.😀

jadi disini lah saya sekarang… berlibut di tanah maluku…😀