Sebelum adanya PSAK 16 Revisi 2007, semua perusahaan di Indonesia mencatat akuntansi untuk aset tetapnya dengan menggunakan model biaya historis. Perlakuan revaluasi untuk menyajikan kembali nilai aset tetap yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan nilai saat ini merupakan pelanggaran terhadap standar. Beberapa perusahaan memang melakukan revaluasi. Biasanya revaluasi tersebut dilakukan dengan tujuan tertentu seperti untuk memperbaiki posisi keuangan dalam rangka tujuan memperoleh kredit dari bank, proses penjualan perusahaan, ataupun adanya kuasi reorganisasi. Selain tidak adanya standar akuntansi yang memperbolehkan perlakuan revaluasi, perusahaan mungkin juga enggan melakukan revaluasi sehubungan dengan adanya kemungkinan pembayaran pajak tambahan. Pajak tambahan tersebut dapat timbul dari pengakuan atas kenaikan nilai aset tetap akibat adanya revaluasi.

Pada dasarnya perlakuan awal untuk aset tetap yang disajikan pada harga wajarnya dengan menggunakan model revaluasian sesuai PSAK 16 revisi 2007 adalah sama dengan perlakuan awal dengan menggunakan model biaya. Perlakuan awal tersebut tentunya dimulai ketika perolehan aset yang kemudian diakui sebagai aset tetap karena telah memenuhi syarat untuk diakui sebagai aset tetap. Kesamaan tersebut termasuk dalam komponen-komponen biaya yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari nilai perolehan aset tetap.

Perbedaan perlakuan tersebut terutama adalah perlakuan pada saat pengukuran sesudah tanggal perolehan. Didalam model biaya historis pengukuran setelah perolehan dilakukan dengan menentukan nilai buku aset tetap. Nilai buku tersebut diperoleh dari total nilai perolehan dikurangi dengan total beban depresiasi yang dikumpulkan dalam perkiraan akumulasi depresiasi. Di dalam perlakuan akuntansi dengan model revaluasi menurut PSAK 16 Revisi 2007, secara garis besar perlakuan tersebut sama. Titik utama perbedaannya terletak pada penentuan total nilai perolehan dari aset yang bersangkutan dan akumulasi depresiasi yang dimiiki.

Di dalam model biaya historis, total nilai perolehan atas suatu aset tidak akan berubah selama tidak ada transaksi yang berkaitan dengan aset tetap tersebut. Transaksi yang dapat mempengaruhi nilai perolehan aset tetap menurut model biaya historis antara lain adalah pembelian, penjualan, penghapusan, pertukaran aset tetap, dan perbaikan aset tetap yang masuk dalam kategori pengeluaran modal. Nilai perolehan aset tetap tersebut tidak akan berubah walapun terdapat perubahan harga yang signifikan. Nilai aset tersebut hanya akan berubah jika perusahaan melakukan revaluasi, yang dalam hal ini bertentangan dengan standar akuntansi sebelumnya, dan memerlukan perlakuan khusus.

Nilai akumulasi depresiasi dalam akuntansi dengan model biaya historis juga pada umunya hanya akan berubah pada saat pengakuan beban depresiasi. Selain itu transaksi lain yang dapat mengubah nilai akumulasi depresiasi adalah pelepasan aset tetap dan penurunan nilai aset tetap.

Di dalam akuntansi dengan model revaluasi, kedua hal tersebut yaitu nilai perolehan dan akumulasi depresiasi dapat berubah selain dari transaksi yang telah disebutkan sebelumnya. Perubahan tersebut adalah perubahan yang disebabkan karena adanya penilaian kembali aset tetap. Nilai perolehan aset yang dicatat di dalam neraca perusahaan akan berubah seiring dengan perubahan nilai wajar aset tetap yang diketahui dengan melakukan penilaian kembali. Akumulasi depresiasi sendiri akan mengikuti perubahan akibat penilaian kembali tersebut.

Perlakuan akuntansi dengan model revaluasi biasanya akan menghasilkan nilai yang lebih besar daripada nilai yang tercatat dalam buku perusahaan. Salah satu faktor utama yang mendorong hal tersebut adalah adanya inflasi di masayrakat.

Di dalam PSAK 16 revisi 2007 dikatakan bahwa nilai wajar yang disajikan pada laporan keuangan merupakan hasil penilaian yang dilakukan oleh penilai profesional baik dengan menggunakan data-data pasar mapun pertimbangan profesional mereka sendiri. Nilai wajar tersebut akan disajikan dalam laporan keuangan dan akan menghasilkan perkiraan baru yang bernama “selisih/surplus revaluasi aset tetap”. Perkiraan tersebut merupakan bagian dari perhitungan laba komprehensif dan langsung dimasukkan ke dalam bagian ekuitas.

Untuk saldo akumulasi depresiasi sendiri terdapat dua cara yang bisa dilakukan dalam kaitannya dengan pelaksanaan revaluasi. Berdasarkan paragraf 35 PSAK 16 Revisi 2007, perlakuan terhadap depresiasi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Disajikan kembali secara proporsional sehingga nilai tercatat aset sama dengan nilai hasil revaluasi
  2. Dieliminasi terhadap saldo bruto aset tetap, dan jumlah neto setelah eliminasi disajikan sejumlah nilai revaluasi aset tersebut

Contoh pelaksanaan revaluasi:

Sebuah aset yang dimiliki oleh perusahaan pada tahun 20X5 diperoleh dengan nilai X. Perusahaan mengubah metode pencatatan yang dilakukan dengan menggunakan model revaluasi. Pada akhir periode 20X9 aset tersebut dinilai naik menjadi Y. Jurnal yang dilakukan oleh perusahaan tersebut adalah

Alternatif pertama yaitu nilai akumulasi depresiasi disajikan secara proporsional.

Aset Tetap                                    xxxx

Surplus Revaluasi                                            xxxx

Akumulasi Depresiasi                                    xxxx

Akibat perubahan dari transaksi tersebut adalah aset tetap di neraca perusahaan pada akhir 20X9 akan disajikan senilai Y dan bukan X. dan di dalam neraca perusahaan perusahaan bagian ekuitas akan ditemukan perkiraan surplus revaluasi senilai perbedaan antara nilai perolehan dengan nilai revaluasi. Akumulasi depresiasi yang berkaitan juga disesuaikan dengan juranl tersebut. Depresiasi selanjutnya juga tetap dilakukan hanya saja dasar depresiasi bukan lagi nilai perolehan melainkan nilai hasil revaluasi.

PT XYZ

Neraca (parsial)

Per 31 Desember 20XX

Aset

…………………………………………………

Aset Tetap                                           xxxx (sebesar nilai revaluasi)

Akumulasi Depresiasi                         xxxx (disesuaikan dengan jurnal)

………………………………………………….

Total Aset

Utang dan Ekuitas

…………………………………………………

Selisih Lebih Revaluasi                        xxxx (selisih nilai perolehan dan nilai revaluasi)

………………………………………………..

Total Utang dan Ekuitas

Alternatif kedua adalah dengan menghapuskan saldo akumulasi depresiasi dan mencatat saldo neto sebagai nilai revaluasi.

Akumulasi Depresiasi                         xxxxx

Aset Tetap                                           xxxxx

Selisih Lebih Revaluasi                                        xxxxx

Akibat dari transaksi tersebut adalah aset tetap di neraca perusahaan pada akhir 20X9 akan disajikan senilai Y dan bukan X. dan di dalam neraca perusahaan perusahaan bagian ekuitas akan ditemukan perkiraan surplus revaluasi senilai perbedaan antara nilai buku dengan nilai revaluasi. Akumulasi depresiasi yang berkaitan dengan aset tersebut tidak ada karena sudah dihapuskan. Depresiasi selanjutnya juga tetap dilakukan hanya saja dasar depresiasi bukan lagi nilai perolehan melainkan nilai hasil revaluasi.

PT XYZ

Neraca (parsial)

Per 31 Desember 20XX

Aset

…………………………………………………

Aset Tetap                                                          xxxx (sebesar nilai revaluasi)

………………………………………………….

Total Aset

Utang dan Ekuitas

…………………………………………………

Selisih Lebih Revaluasi                   xxxx (selisih nilai perolehan dan nilai revaluasi)

………………………………………………..

Total Utang dan Ekuitas

Perusahaan yang memilih model biaya harus menyesuaikan nilai aset tetap mereka secara teratur. Di dalam PSAK disebutkan revaluasi tersebut dilakukan secara teratur sesuai dengan frekuensi perubahan nilai wajar aset tetap yang bersifat signifikan. Penjelasan lanjutan dalam PSAK 16 Revisi 2007 juga menyebutkan aturan untuk revaluasi yang dilakukan setelah revaluasi yang pertama. Aturan tersebut berbunyi:

Paragraf 39 PSAK 16 Revisi 2007

“Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun kenaikan tersebut harus diakui di dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah dilakukan sebelumnya dalam laporan laba rugi.”

Paragraf 40 PSAK 16 Revisi 2007

“Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Namun penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut.”

Artinya dalam pelaksanaan revaluasi lanjutan, nilai surplus atas revaluasi yang dihasilkan pada revaluasi pertama harus diperhitungkan dalam melakukan revaluasi pada periode berikutnya. Jika terdapat saldo selisih revaluasi yang berlawanan, misalnya sebelumnya mengalami kenaikan akibat reavalusi dan berikutnya mengalami penurunan akibat revaluasi atau sebaliknya, selisih lebih revaluasi periode kedua dan seterusnya tersebut terlebih dahulu digunakan untuk mengelimininasi saldo selisih lebih revaluasi yang ada dari revaluasi pertama.

Sedangkan dalam kaitannya dengan perhitungan pajak, selain perbedaan dalam akuntansi dan pajak untuk penentuan masa manfaat, nilai sisa, dan metode depresiasi, penggunaan model revaluasi akan menambah kompleks perbedaan tersebut. Di dalam aturan pajak yaitu Undang-undang nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan terdapat aturan bahwa pajak atas revaluasi besarnya adalah 10% dan bersifat final. Artinya pelaksanaan revaluasi yang menambah menambah nilai aset tetap perusahaan akan menyebabkan perusahaan mendapat tambahan beban pembayaran pajak. Sedangkan jika dalam revaluasi tersebut terdapat penurunan tidak ada perlakuan apapun yang terkait dengan perhitungan pajak.

(sumber : Standar Akuntansi Keuangan, 2007)