upacara-bendera“……..

indonesia raya, merdeka merdeka…

hiduplah indonesia raya…”

dari SD ampe SMA hampir tiap hari senin saya selalu mendengar lagu tersebut… kadang-kadang ditambah bonus dari hari lain ketika upacara bendera diperlukan. misal pada saat hari-hari yang dianggap sebagai hari besar nasional (kalo di instansi ini frekuensi upacara akan ditambah lagi misalnya pada saat hari ibu, serius!)…

katanya si, upacara bendera dilakukan (dan diwajibkan) demi menumbuhkan jiwa dan semangat nasionalisme serta mengenang semangat patriotisme para pahlawan bangsa yang bisa diteladani dalam kehidupan di masa sekarang *mantap*

kalo saja nasionalisme diukur dari jumlah upacara yang telah dijalani, mungkin hampir semua warga negara ini (yang sejak SD selalu akrab dengan upacara) mempunyai rasa nasionalisme yang sangat tinggi….

hanya saja, katanya si, kalo upacara kita harus selalu dalam posisi siap. posisi siap sendiri dalam aturan baris berbaris adalah sebagai berikut:

  1. tangan mengepal ringan dan berada di samping badan, biasanya di sepanjang jahitan celana (buat cowok maksudnya)
  2. pandangan lurus ke depan, atau nama lainnya adalah pandangan rata-rata air.
  3. tumit menyatu dan telapak kaki membuka sebesar 45 derajat.
  4. tidak boleh bergerak kecuali atas aba-aba dari pemimpin barisan.
  5. tidak boleh berbicara dengan peserta lain apalagi dengan diri sendiri (emang orang gila apa?).

masalahnya adalah, sanggupkah kita melakukan syarat2 tersebut semua secara simultan (walah) selama sekitar 1 jam dengan tentunya berada di lapangan sambil mendapatkan sinar matahari yang sangat cukup untuk merubah warna kulit kita (buat yang belum kelam)…

jujur mungkin saya adalah orang yang termasuk pertama menjawab tidak sanggup. seingat saya, seumur-umur saya belum pernah kayaknya menjalani upacara yang bener2 hikmat. menjalani upacara sambil merenungkan jasa para pahlawan yang (semoga) bener-bener berjuang demi bangsa.

selama upacara hal yang bener-bener ada di pikiran saya hanya satu. kapan semua ini akan berakhir….

bagian yang benar-benar paling tidak saya sukai dari upacara adalah bagian dimana kita harus mendengarkan sesosok pembina upacara “ngemeng” tidak jelas. kita (peserta upacara) harus mendengarkan “ngemengan” tersebut di tengah teriknya matahari dan inget, harus menjalankan syarat-syarat baris-berbaris yang saya tuliskan diatas….

jujur (lagi), masa-masa mendengarkan tersebut hampir selalu saya isi dengan acara mengupdate berita dengan temen-temen. yah berita apapun yang penting bisa mengalihkan perhatian kita dari keharusan mendengarkan emengan di depan. bukan berarti hal ini ga ada risikonya. risikonya si antara lain kalo ga ditegur langsung ama si pengemeng, bisa juga tau-tau dijewer ama guru yang biasanya bertugas menjaga di belakang….

intinya adalah, saya masih belum bisa melihat korelasi antara upacara bendera dengan menghormati jasa para pahlawan. toh saya (sangat) yakin para pahlawan tersebut juga bukan berjuang demi  mengharapkan penghormatan dari kita dengan jalan upacara bendera kan???

mungkin salah satu ide bodoh dari saya adalah, kalo ingin lebih menjiwai dalam upcara bendera bisa kita lakukan dengan menggunakan bendera Belanda terlebih dahulu. kemudian tim pengibar bendera adalah mereka yang harus memanjat (inget ya, MEMANJAT) tiang bendera, menurunkan bendera 3 warna tersebut. kemudian menyobek warna biru, baru kemudian mengibarkan bendera yang tinggal 2 warna tersebut…

atau bisa juga menggunakan bendera polandia. kemudian diturunkan (jangan lupa tiang benderanya dipanjat dulu), baru dinaikkan lagi dengan posisi yang sebaliknya…

demi menambah efek dramatis bisa juga si pemanjat tiang bendera sambil ditembaki oleh para peserta upacara. kalau ternyata tidak mempunyai peluru tajam, bisa memakai peluru karet. kalau peluru karet juga ga ada, bisa memakai batu kerikil. untuk pelemparan dengan batu kerikil harus melalui prosesi mengitari tiang bendera dan masing-masing melempar sebanyak tujuh kali…..

hmmm…

semakin ngaco kayaknya tulisan ini…

padahal intinya saya cuman mau nulis:

terus gimana ya membangun rasa nasionalisme yang efektif, kalau ternyata upacara bendera tidak bisa menjadi alatnya…….!?? *bertanya*

*gambar diambil dari sini*