bulan juni maupun juli biasanya merupakan bulan-bulan yang menggembirakan bagi para pelajar yang berada di tingkat akhir, atau malah juga sebaliknya. entah itu bagi para pelajar tingkat akhir sekolah dasar, tingkat akhir sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah akhir…

contohnya seperti ini ni….

lulusan sekolah

lulusan sekolah

raut-raut gembira ditunjukkan oleh mereka yang mendapatkan kabar gembira dari pengumuman kelulusan tersebut. berbagai cara dilakukan untuk mengekspresikan kegembiraan tersebut. corat-coret baju hanyalah salah satu media yang dapat digunakan untuk melampiaskan kesenangan atas berita gembira tersebut. tentunya ada cara maupun media lain yang bisa dan akan lebih tepat serta lebih bagus untuk digunakan dalam menyalurkan kegembiraan tersebut..

tapi bukan masalah perayaan kelulusan yang akan dibahas dalam tulisan ini. yang akan dibahas dalam tulisan ini lebih kepada adanya berita mengenai akan diadakannya ujian akhir nasional susulan. berikut ini adalah berita kecurangan tersebut.

didapatkan juga bahwa di beberapa sma lain terdapat jawaban siswa satu sekolah sama semua. sebuah hal yang tentunya hampir sangat mustahil kalau tidak ada kecurangan. kenapa saya bilang hampir mustahil? karena secara matematis probabilitas jawaban yang sama persis dalam satu sekolah nilainya akan sangat kecil dan mendekati nol. kalau pengen menhitung berapa persen probabilitas dari jawaban yang diberikan siswa akan sama adalah dengan cara sebagai berikut = (1/jumlah kemungkinan jawaban) dipangkatkan jumlah soal dipangkatkan lagi dengan jumlah siswa. sebagai contoh apabila jawaban tersebut merupakan pilihan antara a, b, c, atau d, dan jumlah soalnya ada 30 dengan jumlah siswa 100, maka probabilitas jawaban yang sama persis di sekolah tersebut adalah:

(1/4)^30^100 = (1/4)^3000

(1/4)^3000 sendiri adalah sebuah angka yang mendekati nol (0).  dan di dalam matematika angka probabilitas nol berarti kejadian tersebut adalah kejadian yang mustahil terjadi.

saya sendiri beberapa kali mendengar berita (bukan di media massa) dari cerita beberapa teman bahwa di sekolah ini membeli soal sebelum uan dan kemudian dijual kepada siswanya, atau berita tentang satu sekolah bersekongkol dengan berbagai cara untuk bisa mengakali pengawas independen (dari sekolah lain).

hmmm…. susah ya kalau banyak kecurangan tersebut…

dan sejarah atas adanya kecurangan-kecurangan tersebut (walaupun mungkin sebelumnya telah ada), sepertinya dimulai dari angkatan saya ketika mulai dilaksanakannya ujian akhir nasional. saat itu (2003) adalah mulai diselenggarakannya uan dengan nilai standar kelulusan nasional 3,01 (apa 3,00 ya?… segitu-gitulah.). standar kelulusan itu sendiri semakin lama semakin meningkat dan akhirnya menyentuh angka 6,00…

mulai saat itulah saya mengalami sendiri bahwa kadang-kadang uan telah over-exposed. yah uan telah diekspose secara berlebihan…

sebagai contoh, saya masih ingat bahwa banyak bimbingan belajar yang membuka bimbingan belajar khusus uang dengan biaya yang sangat besar. bahkan saya masih ingat bahwa ada iming-iming biaya kembali kalau tidak lulus…

sekolah-sekolah sendiri juga menurut saya setali tiga uang, alias sama saja dengan lembaga bimbingan belajar tersebut.

saya masih sangat ingat ketika menjelang uan beberapa tahun lalu ada sebuah acara di televisi yang berhubungan dengan uan. dan disitu ada seorang kepala sekolah yang ngomong (redaksi penuhnya lupa, tapi intinya) gini ” saya bersama kepala sekolah lain sedang berjuang agar standar nilai uan tersebut diturunkan……!!”

wtf!!!

alih-alih berusaha meningkatkan kualitas pendidikan, di malah berusaha untuk menurunkan standar kelulusan… hal tersebut sangat aneh menurut saya….

jujur, saya pribadi bukannya tidak mengalami kecemasan yang sama setiap kali mengalami ujian. tentunya lumrah kalau kita merasa takut gagal setiap kali akan mengikuti ujian….

tapi bukannya emang ujian itu cuman ada dua sisi??? gagal atau lulus…. dan kriteria gagal atau lulus untuk ujian yang dibuat oleh manusia emang ditentukan oleh manusia. dalam hal ini kriteria lulus atau tidak dalam uan adalah batasan nilai tertentu. terlepas dari kontroversi mengenai standar ujian akhir nasional yang telah mencapai nilai 6,00, sebagai peserta ujian menurut saya kita tinggal berjuang sebaik-baiknya agar lulus dari ujian tersebut, bukan malah mencari berbagai excuse atas kemungkinan kegagalan atas ujian tersebut…

saya sendiri mungkin adalah orang yang tidak setuju atas diadaknnya ujian ulang di beberapa sekolah yang melakukan kecurangan pada saat ujian. alsannya sih sama dengan alasan sebagian besar orang tentunya, yaitu orang-orang yang telah melakukan kecurangan malah diberi kesempatan mengulang sedangkan yang jujur (ga tau juga si) dan tidak lulus tidak diberi kesempatan mengulang. memang kecurangan tersebut ada juga yang dikoordinasikan oleh pihak sekolah, dan untuk hal tersebut tentunya pihak sekolah juga seharusnya diberikan sanksi atas kecurangan tersebut…

memang dengan tidak memberikan ujian ulangan bisa menimbulkan masalah baru… yaitu bagaimana dengan nasib para siswa yang tidak lulus….

susah sih ya…!!??

karena kalau menurut saya pribadi, akar dari permasalahan ini adalah mental sebagian besar masyarakat yang masih memuja-muja sesuatu yang bernama ijazah. apapun itu biasanya akan ditanyai dulu sesuatu yang bernama ijazah… akibatnya adalah kebanyakan manusia akan berusaha bagaimanapun caranya untuk mendapatkan ijazah tersebut…..

yah… kita liat kelanjutan permasalahan tersebut dulu aja lah ya…

foto diambil dari ini