pada dasarnya saya bukan seorang movie-freak yang harus buru-buru nonton tiap ada pelm baru.  saya kan melihat dulu dan mungkin bertanya-tanya kepada teman saya yang mungkin udah pernah melihat pelm tersebut. satu kategori yang menjadi pertimbangan utama dalam menonton pelm (di bioskop) adalah pelm tersebut pelm lokal apa interlokal bukan. jujur, buat tontonan di bioskop kayaknya saya lumayan alergi ama pelm indonesa. (dan btw juga tontonan indonesa (termasuk juga sinetron) kan rata2 merupakan produksi dari dinasti punjabi bukan? ) jumlah pelm indonesa yang saya tonton di bioskop masih sangat bisa dihitung pake jari. pelm indonesa yang saya tonton berdasarkan kesadaran pribadi *yang lain karena kondisi force majeur* hanyalah Laskar Pelangi. yang lain karena bener2 terpaksa *serius*…

sekali lagi, kriteria pertama untuk pelm yang akan saya lihat adalah pelm tersebut bukan pelm indonesa. karena bagi saya kebanyakan pelm indonesa (yah ga semua lah) hanyalah sinetron yang seluruh episodenya dijadikan satu *masih ingatkah kau akan sinetron berjudul Tersanjung yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta berlogo ikan terbang yang berlanjut ampe sekian seri*. bahkan biasanya saya akan selalu menyempatkan diri untuk nyamper ke bioskop paling dekat dengan kostan *sebuah plaza yang sangat dikenal oleh mahasiswa di kampus ini* setiap melihat ada info pelm asing baru yang tayang di bioskop tersebut.

sampai akhirnya tiba saat itu.

alkisah seorang teman dari jauh datang berkunjung ke kostan. karena ga tau mau ngapain dan mau kemana *masak jauh-jauh dari kota sana cuman ngumpet di kostan*, akhirnya kita putuskan buat nonton. film yang masih fresh *pelm luar tentunya* saat itu adalah Terminator Salvation. ternyata salah satu cecunguk yang ikut saat itu udah pernah nonton pelm tersebut, dan dia sama sekali ga mau nonton pelm itu lagi. malah dia ngancam mau nonton yang lain sendiri *doh!*.

ya udah akhirnya kita ngikut ama dia. tadinya ada temen yang dengan usilnya mengusulkan buat nonton pelm Pocong Kamar Sebelah *mantap nian judul pelm2 indon*…

pilihan temenku *dan akhirnya menjadi pilihan kami* adalah sebuah pelm aneh berjudul:

calo presiden

calo presiden

CAPRES (Calo Presiden)…

kayaknya pelm tersebut dikeluarin pas momen menjelang pelaksanaan pemilu presiden pada tahun 2009 ini.

jujur *lagi*, pertama kali liat pelmnya aku udah khusnuzhon bahwa ini bukan pelm baik-baik *dalam artian sesuai seleraku*, tapi demi alasan teman yah mau gimana lagi lah. dengan mengihklaskan sejumlah rupiah *salahnya nonton pada akhir pekan* akhirnya kami *aku mungkin* mengihklaskan diri nonton pelm tersebut.

garis besar pelm itu (kayaknya) adalah gambaran tentang dunia politik di indonesa. disajikan dengan bumbu humor yang agak maksa.

bagian awal pelm tersebut masih lumayan lah, humornya masih enak walopun juga sedikit maksa. tapi masih oke lah. lama-kelamaan kok aku ga tahan juga ya ngeliatnya. fyi, tu studio kan emang ga penuh, kayaknya sepertiganya juga ga ada, dan ada juga yang ga tahan trus keluar di tengah2 pelm blom selesai. alur cerita pelm tersebut benar-benar ga jelas. loncat sana loncat sini kayaknya hanya demi memasukkan adegan-adegan yang sangat susah dicerna bagaimana hubungannya.

bagian yang paling aku bilang aneh adalah bagian dimana ada tokoh yang dimirip-miripin ama George W. Bush. setelah adegan di SD yang katanya tempat Barrack Obama pernah sekolah di Menteng, tiba-tiba langsung ada tokoh dimirip-miripin ama Bush tersebut dan dia dilempari sepatu ama anak-anak SD. ok, aku si nyambung aja sebenarnya. tapi serius tu adegan bener-bener maksa. yang penting semua masuk ke dalam pelm tersebut. adegan lain yang agak aneh adalah ketika berbagai tokoh politik di indonesa memberikan komentar tentang politik yang ada di Indonesa *dan itu di tengah-tengah pelm*….

haduuh, tu adegan menurutku adalah adegan-adegan paling parah yang ada di pelm tersebut. tau ga kenapa aku bilang adegan tersebut paling parah??? jawabannya adalah karena aku tertidur dengan suksesnya di sisa pelm tersebut. bener-bener ga tau kelanjutan pelm selama sekitar setengah jam lebih, sampai akhirnya pelm tersebut selesai dan ditutup dengan sebuah lagu nasional *ampe lupa lagunya tapi sangat yakin bahwa lagu tersebut merupakan salah satu lagu nasional yang sering dinyanyikan di upacara bendera*

intinya adalah, aku tau mbikin pelm bukan perkara mudah, dan aku sendiri bukan orang yang ahli dalam perkara bikin pelm. bapak-bapak sutradara maupun produser tentunya orang yang jauh lebih mengerti dibandingkan dengan aku. tapiiiiiii, aku juga seorang penikmat pelm. aku *sedikit banyak* bisa mbedain mana pelm bagus dan mana pelm ga bagus *untuk tidak mengatakan jelek*. dan bagi aku pribadi, setelah nonton pelm tersebut,  semakin trauma untuk nonton pelm indonesa. aku akan nambah lama lagi mikirnya bahkan hanya untuk memikirkan mau nonton pelm indonesa apa enggak *halah*

sekali lagi hanya menegaskan aku bukan orang yang ga cinta ama tanah air, aku bangga jadi orang indonesa, aku sangat mendukung (beberapa) produk-produk dalam negeri, aku mendukung ambalat tetap menjadi milik indonesa, aku mendukung timnas bulutangkis walopun sekarang prestasinya sedang angin-anginan, aku mendukung timnas sepakbola walaupun PSSI-nya dipimpin oleh mantan narapidana kasus korupsi dan prestasinya amburadul….

tapi buat pelm indonesa, mungkin saya masih akan berkata tidak… dan semoga kata tidak tersebut hanya untuk saat yang sebentar…

*masih penasaran kenapa dan bagaimana bollywood *terlepas dari sutradaranya orang Inggris* bisa memproduksi slumdog millionaire yang ampe bisa dapet banyak oskar lawalata.*