setelah sekian lama ga berkecimpung di dunia perkompetisian (mirip-mirip perkompakan juga), akhirnya diriku kembali bergabung lagi di dunia aneh itu lagi. yup, kayak kembali ke masa lalu. ada yang beda si…

iyalah, sekarang dah jadi akuntansi bukan chemistry lagi…

ada lagi bedanya, hadiahnya bo, kecil si. tapi dibandingin masa SMA dulu ya tentunya jauh lebih guedhe. juara satu dapet 4,5 jeti plus tiket pulang pergi jakarta manado (tanpa akomodasi, konsumsi, literasi, maupun interpretasi).

bukannya tanpa ekspektasi apapun, atau terlalu optimis sampai akhirnya terbawa mimpi. tapi yang jelas kita bersama-sama telah mengkhianati salah satu prinsip utama dari akuntansi. yah akuntansi adalah bidang yang mengenal konservatisme. dengan bahasa yang agak kasar kadang-kadang konservatis me bisa diterjemahin sebagai pesimisme. yah mo gimana lagi, lebih pas kalo disebut dengan pesimis lho.

ya pokoknya kita yakinlah bakal bisa jadi yang terbaik….

Deja vu…
Ya karena itu tadi, kayak mengenang rasa lalu, ketika dengan perasaan harap2 cemas kami menuju medan pertempuran.
Aku masih inget rasa ketika aku pertama kali ikut pertempuran yang merupakan awal karirku di dunia perkimiaan.
Unnes (universitas negeri semarang) september 2002, seorang guru menawari aku meniti jalan terjal yg bisa saja membawa aku ke jalan yg sama yang ditempuh oleh marie curie, niels bohr, mendeleyev (kalo ga salah namanya gregory ivan mendeleyev)…
Kuterima tawaran itu dengan hati lapang dan gembira, seperti halnya CPNS BPK mendapatkan remunerasi (tentunya yg ga dputung).
Pagi2 menempuh perjalanan sunyi melewati secang, ambarawa, dan tentunya menuju semarang.
Setelah melalui berbabak-babak kompetisi, nyampe juga 5 orang dipinal…
5 orang, yah aku msh inget itu, aku lupa namanya, tapi aku msh inget asal sekolahnya:
1. SMU N 1 Pemalang
2. SMU N 1 Magelang (it’s me)
3. SMU Kolese Loyola
4. SMU Karang Turi
5. SMU Sedes Sapientiae
Ga tau mimpi apa sblmnya, yg jelas bersyukur bgt ketika akhirnya mampu mengalahkan segala rasa minder, nervous, ga pede, etc, untuk mendapatkan gelar juara.
Sumpah rasanya keren bgt, yah mungkin setara ketika Susi Susanti mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia di Olimpiade, atau ketika Mia Audina mengalahkan Zhang Ning, di partai terakhir perebutan piala Uber 1996 (apa 94 y). Terharu juga, tp ga ampe sgitu2nya ampe mata mencucurkan darah si. Aku msh inget hadiahnya, duwit 400rb (bwt perorangan, pas jaman SMA tahun sgitu lmyn jg lho), trus dua buah piala, 1 piala gedhe sbg piala tetap, dan 1 piala gueedhe sbg piala bergilir.
Yah november 2007, 5 tahun setelah itu, semuanya serasa spt deja vu.
Seorang teman sekelas yg sbnarnya kakak kelas (pokoknya gitu lah) nawarin aku bwt berkhianat dari jalan yg ditempuh Marie Curie dan kawan2. Jalan Akuntansi. Ikut lomba akunt yuk sil, begitu godaannya. Disatu sisi hati aku enggan menerimanya, ga tau knapa, ragu aja. Tapi disisi lain, jiwaku ternyata suka tantangan dan suka berkompetisi jg. Yah terima juga lah akhirnya.
Dengan menempuh perjalanan panjang bintaro-kuningan nyampe juga kami di Perbanas…
Berbagai kontingen telah menyambut kami (alah)… Tak lupa terdapat juga pasukan jaket kuning dari pelosok depok, serta beberapa kontingen dari luar jabodetabek, termasuk dari soerabaia.
Yah terlepas dari apapun bentuk lombanya,ternyata aku (kami) belum mampu lagi menantang dunia perakuntansian. Juara 4 (harapan 1, yaitu masih punya harapan bwt jd juara 1) yg berarti senilai 2,250.000 yg masi pake rupiah mampu kami raih. Lumayanlah, bwt makan bareng di PH, dan juga mencoba tantangan berikutnya.
Whatever d result i think i got so much lesson from those competition. I knew that actually i was nothing. I have to learn again and again.
Yup, selalu ada saatnya bwt belajar. Termasuk belajar dari kekalahan, untuk membuktikan kita bukan pecundang, tetapi pembelajar sejati.